Mengulik Postpartum Blues Pada Ibu Primipara Usia Remaja

2 min read

Postpartum Blues Pada Ibu Primipara Usia Remaja

Postpartum merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk periode nifas, dimana kembalinya organ reproduksi yang dimiliki oleh perempuan seperti pada kondisi tidak hamil setelah mengalami proses persalinan. Untuk postpartum blues adalah kondisi gangguan yang bisa terjadi pada wanita pada periode nifas tersebut, dimana biasanya terjadi setelah 3 hingga 7 hari pasca melahirkan.

Pengertian Postpartum Blues

Postpartum blues merupakan gangguan depresi ringan yang bisa terjadi pada wanita setelah melahirkan. Dimana kondisi ini biasanya muncul pada hari ketiga atau keempat, dan dapat memuncak pada hari kelima dan keempat belas. Penyebab dari postpartum blues, atau banyak yang menyebutnya sebagai baby blues, ini sangat beragam dan masih belum diketahui secara pasti.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai sindrom baby blues, faktor yang mempengaruhi di antaranya ada faktor internal dan faktor eksternal. Untuk faktor internal, bisa meliputi usia, fisik, perubahan kadar hormon, pengalaman yang dimiliki, jenis persalinan, dan kehamilan yang tidak direncanakan.

Sementara itu faktor eksternal penyebab postpartum blues adalah pendidikan, status sosial ekonomi, serta dukungan sosial. Gejalanya sendiri bisa bervariasi, dan memiliki tingkat keparahan yang berbeda beda antara satu dengan lainnya. Dimana gejala tersebut juga bisa memuncak pada hari kelima atau ketujuh, sampai keempat belas setelah proses melahirkan.

Postpartum Blues pada Ibu Primipara Usia Remaja

Postpartum Blues Pada Ibu Primipara Usia Remaja

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa faktor usia menjadi salah satu penyebab terjadinya postpartum blues. Di Indonesia sendiri, cukup banyak ditemukan kasus remaja yang melahirkan. Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), remaja adalah individu dengan rentang usia 10 hingga 19 tahun.

Jadi apabila pada rentang usia tersebut seorang remaja melakukan pernikahan, maka masa persiapan pernikahan yang disebut sebut sebagai tugas perkembangan paling penting pada usia remaja akan dilewatkan. Hal ini bisa memicu perasaan belum siap menghadapi kelahiran bayi, yang dapat mengakibatkan terjadi postpartum blues.

Postpartum blues adalah gangguan yang rentan muncul pada ibu primipara, terlebih jika usianya masih tergolong belia. Primipara sendiri merupakan wanita yang telah melahirkan seorang anak, sedangkankan multipara adalah wanita yang sudah melahirkan lebih dari satu kali, sementara grandemultipara adalah istilah untuk wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih.

Pada umumnya persalinan dilakukan oleh individu yang berumur di atas 20 tahun, karena pada usia tersebut baik secara fisik dan mental seseorang dirasa sudah siap. Maka dari itu batas usia dalam pernikahan dilakukan, karena berkaitan dengan kematangan emosional, fisik, maupun psikologis. Apabila persiapan kurang maka besar kemungkinannya menimbulkan masalah.

Pentingnya Dukungan Sosial dan Kepuasan Pernikahan

Meski ibu primipara terlebih yang masih berusia remaja memiliki risiko yang besar mengalami baby blues, namun tidak serta merta semua individu tersebut akan pasti mengalami gangguan terkait. Cara mencegah atau mengatasi postpartum blues yakni dengan meningkatkan dukungan sosial dan kepuasan pernikahan.

Pada kelahiran pertamanya, ibu primipara mengalami perubahan kondisi seperti perubahan peran dan bertambahnya tanggung jawab. Dibutuhkan adanya penyesuaian diri yang sangat tinggi dalam menghadapi peran, serta aktivitas baru sebagai seorang ibu. Terutama pada minggu minggu pertama setelah si kecil lahir ke dunia.

Ibu primipara yang tidak berhasil menyesuaikan diri, akan mengalami perubahan emosi seperti mudah cemas tanpa ada sebab yang jelas, murung, sedih, menangis, tidak percaya diri, lebih sensitif, dan gejala gejala lainnya. Meski sebenarnya ringan, namun kondisi tersebut tentu bisa berpengaruh negatif pada anak.

Dampak yang muncul pada si kecil di antaranya masalah tidur, agresi dan hiperaktif, tantrum, bahkan hingga terganggunya perkembangan kognitif anak seperti lambat berjalan dan berbicara. Beberapa anak yang dulunya memiliki ibu dengan postpartum blues, juga mengalami sulit bersosialisasi, sulit berteman, serta cenderung bertindak kasar.

Berdasarkan penelitian, cara mengatasinya atau mencegah postpartum blues adalah dengan meningkatkan dukungan sosial dan kepuasan pernikahan. Semakin bahagia ibu primipara, dan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Maka akan semakin kecil risiko terjadinya baby blues, karena tidak ada yang memicu sindrom tersebut untuk muncul.

Selain itu, persiapan yang matang sebelum proses persalinan bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah sindrom baby blues. Maka dari itu usia remaja digunakan sebagai masa persiapan pernikahan. Jika harus menjadi ibu primipara pada usia remaja, maka pastikan bahwa dukungan sosial yang diterima cukup dan pernikahan berjalan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *