Mengenal Apa itu Toxic Positivity, dan Perbedaannya dengan Berpikir Positif

2 min read

Toxic Positivity, dan Perbedaannya dengan Berpikir Positif

Ketika dihadapkan pada seseorang yang sedang mengalami masalah, baik itu keluarga, teman, maupun kenalan, sebagian orang mungkin akan langsung menyemangati dengan kata kata positif. Namun apakah anda tahu bahwa terkadang kalimat motivasi tersebut ternyata bisa berubah menjadi toxic positivity ? Berikut pengertian toxic positivity beserta penjelasannya.

Pengertian dari Toxic Positivity

Mungkin sebagian dari anda sudah sering mengenal kata toxic, dimana paling umum di kalangan masyarakat adalah toxic relationship atau sebuah penggambaran hubungan yang tidak sehat. Meski begitu, cukup banyak orang yang belum mengenal apa itu toxic positivity. Pengertian dari toxic positivity sangat jauh berbeda dengan toxic relationship.

Toxic positivity ini merupakan hal yang diucapkan oleh seseorang untuk mendorong orang lain yang sedang menghadapi masalah, untuk terus bersemangat, berbahagia, berpikir secara positif, dan lain sebagainya. Meski sebenarnya bertujuan baik, namun kalimat kalimat tersebut bisa saja menjelma sebagai racun bagi orang yang sedang mengalami masalah.

Bahkan toxic positivity ini juga dapat membuat seseorang menjadi terobsesi dengan perasaaan bahagia, sehingga ia pun mulai memanipulasi perasaan yang dirasakannya sendiri. Tentunya hal ini berbeda dari definisi optimisme atau berpikir positif, karena optimisme dan berpikir positif berarti anda memiliki harapan yang baik akan sesuatu hal.

Kenapa Kata Kata Positif Menjadi Toxic ?

Kata Kata Positif Menjadi Toxic

Dari pengertian toxic positivity, anda tentu sudah mengetahui bahwa hal tersebut awalnya bermula dari kata kata penyemangat simple yang ditujukan untuk menguatkan seseorang. Meski begitu, ada kalanya bahwa kata kata ini ternyata bagi sebagian lain malah membuat mereka menjadi merasa berkecil hati bahkan memicu depresi pada diri.

Kenapa bisa begitu ? Karena seseorang yang mengalami masalah tersebut, terus menerus didorong untuk melihat sisi baik dalam kehidupan. Tanpa adanya kesempatan untuk meluapkan perasaannya, atau tanpa pertimbangan pengalaman apa yang tengah dirasakan. Padahal emosi yang ditekan justru bisa menjadi penyebab gangguan psikis.

Seperti yang dijelaskan oleh Susan David, seorang instruktur Psikologi yang ada di Universitas Harvard. David menyebutkan bahwa merasakan dan menerima, serta tidak menyangkal emosi emosi negatif yang muncul di dalam diri sebenarnya merupakan hal yang natural. Sebaliknya terus menekannya bisa memicu munculnya rasa cemas yang berlebih, bahkan depresi.

Pasalnya ketika sedang berpura pura merasa positif, seseorang cenderung akan menyalahkan diri sendiri akibat dari kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Perasaan menyalahkan diri sendiri ini kemudian dapat berujung dengan rasa kecewa yang menumpuk, akhirnya malah menjadi memperburuk perasaan negatif yang ada di dalam diri.

Padahal ketika sedang bercerita, tidak semua orang membutuhkan kata kata penyemangat. Terkadang mereka hanya ingin bercerita dan menuangkan perasaan dimana yang mereka butuhkan sebenarnya adalah empati, kesempatan untuk didengar serta dipahami. Anda hanya perlu memberi mereka kesempatan untuk mengekspresikan setiap emosi yang dirasakan.

Hal tersebut tentu lebih baik, daripada sesuai dengan pengertian toxic positivity, yaitu terus mendorong seseorang yang sedang dalam masalah untuk berpikir positif dengan kata kata penyemangat. Daripada menyuruhnya untuk bersyukur dan membandingkan dengan orang lain, sebaiknya tanyakan hal apa yang membuatnya ingin menyerah, dan lain sebagainya.

Efek Negatif Toxic Positivity

Toxic positivity bisa memberikan efek negatif dalam jangka waktu yang panjang. Sebab seseorang yang sudah percaya pada kalimat kalimat toxic akan terus berusaha menghindari emosi negatif di dalam diri. Padahal perasaan ini dihasilkan oleh otak untuk menandakan bahwa terdapat bahaya. Jika terus dibiarkan, maka orang tersebut akan kesulitan untuk menilai masalah.

Seseorang yang terus fokus pada toxic positivity, pada akhirnya bisa mengalami kebingungan terhadap emosi yang timbul di dalam diri. Gangguan ini membuat pengidapnya menjadi tidak mampu berpikir secara realistis, dan sulit untuk menggambarkan perasaannya kepada orang lain. Itulah pengertian toxic positivity dan dampak negatifnya, yang perlu anda waspadai.

Dalam menghadapi masalah, manusia memang tidak dapat memilih emosi mana yang akan dirasakan. Namun bila emosi yang muncul tersebut disangkal, akan membuat pikiran terbebani dan stress. Oleh sebab itu saat anda atau orang yang anda kenali merasakan suatu emosi, sebaiknya nikmati perasaan tersebut daripada terus menyangkalnya dengan kalimat positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *