Menyambut Dan Melewati Yang Lalu Untuk Tahun 2017 Yang Lebih Baik !

Tahun 2017 sudah begitu dekat dari mata saya ketika saya mulai menuliskan ini. Tahun yang entah akan ada kejutan apa bagiku, bagi bangsaku. Banyak sekali orang yang memanfaatkan moment berakhirnya tahun 2016, dengan pesta-pesta. Tentu terselip oleh mereka doa-doa, di laman media sosial mereka.

Happy New Year 2017

2016 yang sudah segera berakhir, atau telah berakhir kala kalian membaca tulisan ini, tentu saja telah memberi kesan-kesan bagi kalian. Bagi kita semua, 2016 juga memberi begitu banyak pengalaman, yang semestinya mendewasakan pola pikir kita di tahun berikutnya. Pula, mendewasakan hati kita agar lebih lapang menerima segala kerumitan-kerumitan yang dijanjikan oleh dunia.
Barangkali dalam tahun-tahun sebelum 2017 tiba kita masih menjadi pribadi yang lebih dekat dengan pribadi-buruk, sudah seharusnya jika demi kebaikan diri sendiri, kita mau merubah dan berubah menjadi pribadi yang, setidaknya, tak seburuk tahun-tahun yang telah lalu berlalu.
Biar saya sedikit bercerita di sini. Sekitar 3-4 tahun yang lalu, saya sangat buruk dalam memandang orang-orang yang “berprofesi” sebagai pengemis. Barangkali saya tak sendirian karena memang pandangan kita atas mereka, lebih mudah untuk dijadikan sebagai pandangan buruk dengan berbagai alasan yang ada.
Kepada mereka, saya bahkan tak segan sekaligus tanpa malu mengejek, mencemooh, dan berbicara dengan nada-nada kasar pada mereka. Saya hina mereka dengan ucapan dari mulut saya. Dan saya mempunyai dasar atas “kebencian” semacam ini; mereka tak seharusnya mengemis. Ditambah lagi adanya informasi dari kawan-kawan saya bahwa sebagian pengemis (yang seringkali mendatangi rumah-rumah di kampung saya) itu sebetulnya memiliki ini-itu.
Memiliki ini-itu yang dimaksud adalah bahwa pengemis tersebut di rumahnya memiliki mobil mewah, sepeda motor yang dibeli secara cash, rumah yang besar dengan gaya bangunan modern. Saya sempat membuktikan sendiri bahwa memang ada, di antara mereka yang latar kehidupannya sedemikian. Hal ini, mau tak mau membuat saya kian yakin bahwa membenci pengemis dengan mengekspresikan kebencian itu melalui kata-kata di depan muka mereka, adalah tindakan paling benar terhadap mereka.
Beberapa media banyak yang mengungkap penghasilan mereka. Di ibukota, pendapatan mengemis atau meminta-minta, berada di kisaran rupiah antara Rp 150.000 hingga Rp 300.000 dalam sehari. Adapun pendapatan paling minim dalam sehari yaitu sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.
Saya tak akan membandingkan pendapatan mereka dengan pendapatan buruh di sana. Biar jika itu diperlukan, kalian perbandingkan sendiri. Namun, yang ingin kemudian saya sampaikan di sini adalah bahwa menjadi orang yang secara status sosial nampak berada di garis terendah, dalam hal ini mereka para pengemis itu, memiliki penghasilan yang tinggi, bahkan bisa jadi lebih tinggi penghasilan mereka dibanding orang lain yang tiap hari kerja memeras keringat dari pagi hingga sore.
Di sini saya kemudian bertanya, apakah pengemis yang berpenghasilan antara Rp 150.000 hingga Rp 300.000 seperti tadi bisa kita golongkan sebagai orang miskin? Terutama definisi miskin ala pemerintah.
Jika iya mereka tergolong miskin, maka sudah sepantasnya pemerintah terus menekan agar jumlah mereka terus berkurang alih-alih menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya. Namun jika tidak, artinya pemerintah cukup mudah untuk merealisasikan program pengentasan kemiskinan di negeri ini; kaderisasi pengemis di tiap-tiap wilayah.
Saya kembali lagi pada kebencian saya terhadap para pengemis tadi. Beberapa bulan silam, saya baru menyadari bahwa tindakan saya terhadap pengemis memang berlebihan. Saya tak sepantasnya mencemooh mereka. Saya kira, mereka sudah cukup menghinakan diri dan tak perlu saya ikut menghinanya.
Hinakah mereka? Tergantung dari cara kita menilai mereka . Kalimat yang bagus untuk hal ini adalah tangan di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (peminta).” Setidak-tidaknya, dengan memilih menjadi peminta, pengemis memposisikan diri mereka menjadi orang yang tak lebih baik dari yang dimintai. 
Lebih dari ini, jika ada dari kalian seorang perempuan, silakan jawab ini, pilih mana kalau ada dua lelaki datang melamarmu; yang pertama seorang buruh pabrik, dan yang kedua seorang pengemis?
Maka dengan demikian, kesadaran saya atas pandangan pada pengemis, berangsur-angsur menjadi ketidakpedulian dan bingung. Saya tak mau lagi peduli bagaimana latar belakang pengemis yang datang meminta. Saya juga tak peduli berapa penghasilan mereka setiap harinya. Saya pun tak peduli, apakah mereka meminta-minta karena memang tak mampu bekerja secara umumnya manusia bekerja, atau hanya akting, atau selainnya. Tak peduli.
Saya kemudian memilih untuk peduli pada diri saya sendiri. Jangan-jangan selama ini, saya tak jauh berbeda dari pengemis karena tak punya malu tiap saat meminta jatah kiriman dari orang tua. Sedangkan secara jasmani-ruhani, saya sadar bahwa saya mampu bekerja demi memiliki penghasilan sendiri. Jangan-jangan demikian?
Jika benar demikian, tentu saja selama ini saya berdosa karena telah berlaku tidak adil terhadap mereka para pengemis itu, terutama ucapan-ucapan tak pantas yang sempat saya lontarkan pada mereka. Saya berdosa dan salah. Saya akui bahwa saat itu, saya lebih bodoh dari pada mereka.
Lalu? Saya harus memiliki pengharapan karena tulisan ini saya buat di saat-saat pergantian tahun. Saya berharap bahwa saya, kita semua, harus mencoba untuk menjadi adil bagi siapa dan apa pun. Kita harus adil bagaimana pun caranya. Karena tentu saja kita tahu bahwa keadilan, cukup langka di negeri ini. Bolehlah kita mulai belajar menjadi adil dengan merubah pandangan kita atas para pengemis.
Di samping itu, bagaimana cara kita menghadapi pengemis itu , kita hanya perlu memberi permintaan maaf dan jika memberipun janganlah diucap lagi berilah mereka yang membutuhkan dengan ikhlas.
Artikel Menarik Lainnya :

Kesimpulan : Jadikanlah diri Anda lebih baik lagi untuk masa yang akan datang tidak hanya untuk esok namun untuk seterusnya terus kembangkan diri menjadi lebih , lebih , dan lebih lagi

Kutipan : Orang cacat tanpa anggota tubuh lengkap saja dapat menghasilkan sesuatu , dan dapat berkarya. Mengapa mereka yang masih diberi kesempurnaan hanya mampu mengulurkan tangan untuk meminta saja.

Sekian, selamat tahun baru 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *